Bagaimana Ketentuan Dan Hukum Pelaksanaan Aqiqah

Menurut bahasa, aqiqah adalah ibadah yang berbentuk penyembelihan hewan, sebagai tanda syukur umat Muslim atas kelahiran bayi. Menurut ilmu fiqh, ibadah ini disebut sebagai zabihah dan nasikah, dimana nasikah berarti ibadah sedangkan zabihah artinya sembelihan. Apabila digabung, maka maknanya menjadi penyembelihan sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt. Hewan yang disembelih adalah unta atau kambing, namun hewan yang paling afdhal dan paling baik untuk disembelih yaitu kambing. Sementara menurut Imam Ahmad RA berpendapat jika ditinjau secara syar’i, ibadah ini memilki makna berkurban. Pelaksanaan ibadah ini sudah dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW.

Ketentuan dan Hukum Pelaksanaan Aqiqah

Ketentuan aqiqah sebenarnya sudah disyariatkan oleh Islam. Mengingat kehadiran sang buah hati akan disambut bahagia oleh para orang tua, sehingga pelaksanaan ibadah ini dilakukan sebagai ucapan tanda syukur dan kebahagiaan kita sesuai syariat agama Islam. Merupakan suatu pahala jika kita sebagai umat Muslim berniat melakukan ibadah tersebut sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. Apabila dilanjutkan dengan pelaksanaannya sesuai ketentuan yang benar, tentu saja dapat memberikan tambahan pahala jika terlaksana. Jadi dengan niat melakukannya saja kita sudah mendapatkan pahala, apalagi jika kita benar-benar melaksanakannya. Pelaksanaan ibadah ini untuk anak laki-laki menurut syariat Islam yaitu dengan menyembelih 2 ekor kambing. Sedangkan untuk anak perempuan dengan menyembelih 1 ekor kambing lihat penjelasan paketnya di  http://www.balqisaqiqah.com klaten yang komplit dan bagus layanannya.

Menurut Mazhab Asy Syafi’e, hukum pelaksanaan aqiqah yaitu sunnah muakkad, dimana sunnah yang pelaksanaannya mendekati wajib. Adapun tanggung jawab pelaksanaan ibadah ini dikenakan terhadap orang yang memiliki kewajiban memberi nafkah pada anak yang akan diaqiqahkan tersebut, seperti orang tuanya. Untuk waktu pelaksanaannya sendiri, para ulama sepakat berpendapat bahwa waktu pelaksanaan ibadah ini paling utama yaitu pada hari ketujuh setelah kelahirannya. Akan tetapi beberapa ulama berselisih pendapat mengenai bolehnya melakukan aqiqah sebelum atau sesudah hari ketujuh. Jika tak bisa melakukan ibadah ini di hari ke-7, maka diperbolehkan melakukannya di hari ke-14, dan apabila tak bisa melakukannya bisa dikerjakan di hari ke-21 setelah kelahirannya.